بسم الله الرحمن الرحيم


Hadiah.
July 24, 2008, 7:42 am
Filed under: Dakwah dan Tarbiah

Dalam memberikan arahan (taujih) tentang tugas dakwah, Imam Syahid Hasan al-Banna memberikan perumpamaan dengan perkataannya : “Disetiap bandar terdapat pusat pembangkit eletrik. Para pegawai memasang pra-sarananya di seluruh penjuru bandar, memasang tiang dan kabel, setelah itu alirang eletrik masuk ke kilang-kilang, rumah-rumah dan tempat-tempat lain. Jika aliran eletrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, maka seluruh bandar akan gelap gelita. Padahal saat itu, tenaga eletrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit eletrik. Hanya saja ianya tidak dimanfaatkan.”

Demikianlah, Allah telah menurunkan al-Quran al-Karim kepada kita, dan dialah sebesar-besar tenaga dalam kehidupan ini.

Allah berfirman : “Sesungguhnya telah datang kepada mu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjukkan orang-orang yang mengikuti keredhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gelita kepada cahaya yang terang benderang dengan izinNya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”

(al-Maidah : 15-16)

Begitu jugalah al-Quran al-Karim, ia adalah pusat pembangkit “tenaga” bagi kaum muslimin, tetapi sumber kekuatan itu kini dicampakkan oleh kaum muslimin sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan kehidupan pun menjadi rosak.

Tugas kita sebagai da’i adalah seperti tugas para pegawai eletrik, mengalirkan kekuatan ini dari sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar sentiasa bersinar dan menerangi sekelilingnya.

Allah berfirman : “Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupalah dengan keadaan orang yang berada dalam gelap gelita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?”

(al-An’am : 122)

Maka tatkala anda ingin memikat hati mad’u, anda harus ingat bahawa anda adalah sebagai seorang da’i bukan seorang ulama atau fuqaha. Tatkala anda berdakwah, anda harus ingat bahawa anda sedang memberikan hadiah kepada orang lain, maka anda harus mempertimbangkan hadiah apa yang paling pantas diberikan dan bagaimana cara memberikannya.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: