بسم الله الرحمن الرحيم


Parameter Ukhuwwah.
June 16, 2008, 3:40 am
Filed under: Dakwah dan Tarbiah

I

Demikianlah kedudukan persaudaraan di antara para da’i. Ia merupakan tiang seri yang penting dalam tarbiyah kita, sesudah solat dan tasbih. Setiap gerakan Islam yang menekuni aktiviti umum sebelum mengukuhkan makna persaudaraan keimanan ini di kalangan anggotanya, pasti akan mengalami kegagalan sebagai akibat dari kesembronoan dan kelalaiannya terhadap pentingnya makna persaudaraan ini. Tidak ada jalan lain kecuali harus kembali dari permulaan dengan menempuh jalan iman dan mempergunakan sasat malam hari yang berharga dengan sebaik-baiknya. Lalu etika persaudaraan ini harus direalisasikan ke dalam sikap saling nasihat menasihati, saling merasa senasib sepenanggungan dan saling menyintai, agar hati di antara sesama saudara terjalin dalam suatu ikatan yang erat dan terpadu dalam nuansa yang penuh toleransi. Kita harus belajar bersikap toleran terhadap sesama saudara, bilamana di antara mereka ada seseorang yang melakukan kelalaian atau bersikap melampaui batas dalam aktivitinya. Sebagaimana etika persaudaraan ini mengajarkan untuk bersikap memberikan imbalan, kesetiaan dan ucapan terima kasih manakala di antara mereka ada yang cepat memberikan respon dan berhasil membenahi kekeliruan dirinya.

Sesungguhnya Imam Syahid Hasan al-Banna menyukai bila etika ini diamalkan oleh para da’i. Kerana itu beliau meletakkan suatu manhaj tertentu sehingga persaudaraan mereka tidak terbatas hanya pada tingkat pembicaraan dan teori-teori belaka, bahkan meningkat sampai ke tahap amal dan operasional. Dari persaudaraan yang terjalin di masa generasi pertama, al-Banna rahimahullah melihat hal-hal yang menyenangkan hatinya semasa hidupnya. Dan untuk membuktikan kesetiaan dari orang-orang yang menyintainya sepeninggalannya, seharusnya mereka melestarikan kebaikan etika ini, dan kembali merujuk kepadanya di awal kesadaran mereka, manakala dilupakan oleh kelalaian mereka.

Sesungguhnya ia adalah nikmat persaudaraan.

Umar ibnul-Khattab ra menganggapnya sebagai anugerah Ilahi yang paling berharga bagi seorang hamba sesudah nikmat Islam. Umar ra mengatakan :

“Tiada suatu kebaikan pun yang dianugerahkan kepada seorang hamba sesudah Islam, selain dari saudara yang soleh. Apabila seorang di antara kamu merasakan sentuhan kasih sayang dari saudaranya, maka hendaklah ida berpegang kepadanya.”

Seorang tabiin bernama Malik bin Dinar menyebutnya dengan istilah kesenangan dunia. Ia mengatakan :

“Tiada tersisa dari kesenangan dunia selain dari tiga perkara iaitu : bersua dengan para saudara, tahajjud dengan membaca al-Quran dan rumah yang sepi untuk melakukan zikrullah di dalamnya.”

Seorang penyair menghimpunkan kesemuanya itu dalam ungkapannya, dan menyebutnya sebagai harta simpanan, melalui bait-bait berikut :

“Demi usiamu, pemuda yang sejati tidak pernah menyukai harta simpanan, melainkan harta simpanan yang sebenarnya adalah saudara yang dapat dipercaya.”

Oleh kerana itu, ulama salaf sering berpesan agar teliti dalam memilih teman sepergaulan, supaya harta simpanan yang sebenarnya dan kesenangan sesungguhnya dapat diraih. Disebutkan bahawa di antara pesan-pesan al-Hasan al-Basri, penghulu para tabiin menyebutkan sebagai berikut :

“Sesungguhnya engkau mendapat bahagian dari teman setiamu, dan sesungguhnya engkau mendapat bahagian dari sebutan orang yang kamu cintai. Oleh itu pilihlah saudara, teman dan majlis tempat dudukmu.”

II

Para tabiin menggambarkan pengertian yang baik secara umum dengan ungkapan yang teliti dalam memilih teman. Hal ini diungkapkan oleh mereka melalui bait-bait syair berikut :

“Engkau dinilai di kalangan manusia melalui orang yang engkau pilih sebagai teman dekat mu,

Maka bertemanlah dengan orang-orang pilihan, nescaya darjatmu terangkat tinggi dan memperoleh sebutan yang baik.”

Kemudian mereka menggambarkannya secara khusus dan menafsirkan kebaikan ini dengan pengertian taqwa, melalui ungkapan bait berikut :

“Bersainglah apabila persainganmu untuk mencari saudara yang bijak, iaitu apabila engkau ingin bersaudara dengan ahli taqwa,

Tiada kebaikan pada diri orang yang tidak dapat diharapkan kebaikannya di waktu kapan pun, dan tidak pula gangguan dapat dihindarkan darinya.”

Kemudian mereka menjelaskan lebih jauh dengan menyebutkan sifat-sifatnya secara terperinci guna membantumu untuk teliti dalam memilih.

Sifat yang paling menonjol dari orang yang baik untuk dijadikan teman atau saudara adalah orang yang baik tutur katanya. Hal ini disebutkan oleh Umar ra melalui ungkapan berikut :

“Seandainya aku tidak berjuang di jalan Allah, atau meletakkan keningku di tanah kerana sujud kepada Allah, atau duduk semajlis dengan suatu kaum yang suka memungut perkataan yang baik sebagaimana mereka memungut buah masak yang terjatuh, tentulah aku lebih suka mati saja menghadap kepada Allah.

Di antara sifat mereka ialah bahawa seseorang dari mereka dapat meringankan beban yang memberatimu dan melenyapkan segala macam protokol di antara kamu dnegan dia. Jaafar Ibnu Muhammad as-Sodiq ra mengatakan :

“Teman-teman yang paling berat bagiku adalah orang yang menjadi beban bagiku dan aku harus memelihara hubungan dengannya secara formal. Dan yang paling ringan di antara mereka adalah seseorang yang bila aku ada bersamanya sama dengan aku dalam keadaan sendirian.”

Di antara sifat mereka ialah tidak materialistik dan suka kepada hal-hal yang meninggikan darjat. Mereka membuat suatu perumpamaan mengenai sifat ini melalui sikap Imam Ahmad dalam memilih teman, sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang menyanjunginya :

“Dia berbuat baik untuk membela agama Allah dan tidak pernah takut menghadapi bencana, manakala dia melihat ahli kebenaran dizalimi,

Teman-teman dekatnya adalah setiap orang yang beroleh taufiq, memahami perintah Allah lagi suka kepada hal-hal yang meninggikan darjat.”

Di antara sifat mereka ialah selalu mengingatkan kita kepada Hari Akhirat, sebagaimana dikatakan oleh al-Hasan al-Basri :

“Teman-teman kami lebih kami sukai daripada keluarga dan anak-anak kami, kerana keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia, sedangkan teman-teman kami selalu mengingatkan kami kepada Akhirat.”

Di antara sifat mereka ialah mengutamakan orang lain. Hal ini merupakan salah satu di antara rukun baiah penyair Soleh Hayawi kepada mereka melalui ungkapan berikut :

“Selamanya aku selalu bersama orang-orang yang bertaqwa, bersama para da’i yang mengamalkan ilmunya,

Iaitu mereka yang menyebarkan panji Ahmad (Nabi saw) setinggi-tingginya di seluruh dunia,

Iaitu mereka yang bersikap objektif dan mengutamakan orang lain yang menjadi teman mereka,

Aku selalu bersama mereka, bersama orang-orang yang bertaqwa, iaitu para da’i kaum muslimin.”

Di antara sifat mereka ialah selalu memberi nasihat. Seseorang di antara orang soleh yang membantumu untuk mengamalkan agama Allah dan menasihatimu hanya kerana Allah.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: