بسم الله الرحمن الرحيم


Umat 3 – Tradisi.
June 6, 2008, 4:25 am
Filed under: Dakwah dan Tarbiah

Pengurusan diri yang dimaksudkan dalam pandangan Islam adalah bagaimana memaksimakan quwwatul-khair (kekuatan kebaikan) dalam diri kita dan mematikan quwwatul-syar (kekuatan kejahatan), atau minima melumpuhkannya.

Oleh kerana itu, sejak awal, Islam membangun atau membuat sunnah-sunnah atau tradisi-tradisi yang boleh membantu orang secara umum untuk mengenal dirinya secara baik.

Sabda Rasulullah saw :

Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya.”

Kerana hal itu – mengetahui kemampuan diri – boleh membuat seseorang itu tawadhu, supaya dia tidak angkuh dan pada waktu yang sama boleh membantu dia memaksimumkan pertumbuhan dirinya dan juga mengetahui di mana posisi-posisi yang paling tepat untuk dia berperanan secara maksimum.

Sekarang bagaimana kita membangunkan konsep diri kita dalam pandangan Islam. Ada beberapa tradiri yang perlu kita biasakan.

Tradisi Pertama : tradiri I’tikaf. Umar bin Khattab ketika masa jahiliyah, setiap minggu melakukan I’tikaf di Masjidil-Haram. Itu di masa jahiliyahnya. Di masa Islam, Allah mensyariatkan I’tikaf sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Di antara para sahabat saat bernazar, yang selalu mereka lakukan adalah beri’tikaf.

Kenapa I’tikaf?
I’tikaf membantu kita membuat pemahaman diri yang sangat mendalam. I’tikaf itu sebenarnya mempunyai kemiripan dengan meditasi. Tetapi I’tikaf mempunyai keunggulan dalam hal nuansa spiritualnya, nuansa ubudiyahnya. Ketika seseorang beri’tikaf di masjid, dia bukan hanya melakukan meditasi untuk penemuan dirinya tetapi juga terbantu oleh suasana spiritual, oleh suasana ubudiyah, oleh suasana keimanan, tercerahkan.

Apa yang kita perolehi dari I’tikaf adalah ketenangan. Ketenangan itu adalah pintu – yang biasa disebut disebut dengan istilah – keterarahan. Jadi perasaan terarah, perasaan orientasi, perasaan mempunyai tujuan, bukan sekadar mengetahui tujuan kita, tetapi bagaimana memindahkan pengetahuan itu menjadi emosi.

Perasaan terarah, perasaan beroreintasi dan perasaan mempunyai tujuan adalah bahagian umum dari kesedaran internal yang paling kuat dalam diri seseorang. Jadi seseorang tidak lagi sekadar merumuskan tujuannya secara tertulis, tetapi dia sudah memindahkan tujuan itu menjadi kesedaran instink di dalam dirinya, kerana sudah menyatu dengan emosinya.

Tradisi kedua adalah yang juga dekat dengan i’tikaf, iaitu kebiasaan berfikir, dan ini boleh dilakukan setiap saat.Kita melihat di dalam al-Quran, ayat yang menjelaskan tentang hal ini luar biasa banyaknya. Adat tafakkur ini membuat seorang Muslim itu berusaha untuk mempekerjakan aspek-aspek kekuatan intelektualnya lebih banyak sehingga terjadi dinamika internal di dalam dirinya yang kadang-kadang tidak terlihat di luar, tetapi dinamika itu sedemikian kuatnya menjadi kekuatan pendorong bagi dia untuk kerja lebih sepenuh tenaga.

Tradisi ketiga adalah ketrampilan berbicara. Luqmanul-Hakim mengatakan :

Diam adalah hikmah tetapi sangat sedikit orang melakukannya.”

Nah, kenapa diam itu menjadi penting?

Kerana dengan diam itu kita menghemat tenaga saraf yang kita miliki. Berbicara itu memerlukan tenaga saraf yang sama banyaknya dengan tenaga yang kita perlukan untuk bekerja berat.

Oleh kerana itu, kaedah yang mengatakan tentang bicara adalah sabda Rasulullah saw :

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam.”

Sehingga setiap kata yang keluar dari kita itu produktif sifatnya, kerana ia menghasilkan pahala, kerana bicara itu sebenarnya adalah perbuatan. Oleh kerana itu, maka setiap kata yang kita ucapkan harus mempunyai nilai pahala.

Banyak orang yang berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan, atau hal-hal yang belum saatnya untuk dibicarakan atau hal-hal yang sama sekali tidak lagi diperlukan untuk dibicarakan, tetapi kita menghabiskan tenaga kita larut dalam hal yang seperti tadi.

Tradisi keempat adalah tradisi serius. Firman Allah :

Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.”

(al-Hadid : 16)

Ayat di atas merupakan teguran kepada orang-orang Islam yang baru empat tahun masuk Islam. Ayat ini turun pada masa keempat kenabian, oleh itu ia termasuk yang turun di fasa Mekah. Tujuannya menegur para sahabat yang masih terlalu suka bergurau senda, sebab dakwah Islam itu serius. Adanya kesungguhan itu, barulah kita dapat menyatukan kekuatan positif dalam diri kita dan memfokuskannya pada tujuan, atau pada sasaran yang ingin kita capai.

Tradisi kelima adalah tradisi taubat yang berkala. Ianya seperti muhasabah, tetapi secar berkala, secara rutin. Sebenarnya inti dari muhasabah ada taubat berkala.

Ali bin Abi Talib menganjurkan supaya setiap minggu kita menulis kebaikan-kebaikan yang sudah kita lakukan dan juga menulis kejahatan-kejahatan yang kita lakukan, supaya kita membuat perbandingan antara keduanya, kemudian memperbaharui taubat.

Itu semua adalah instrumen-intrumen yang akan membantu setiap individu untuk menumbuhkan jati dirinya, atau konsep dirinya.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: